Bertaruh Nyawa Mencari Red Arwana
Font Terkecil
Font Terbesar
![]() |
Batu Akik Red Arwana (Carnelian Calsedony) |
Kapuas Hulu mulai
menjadi sorotan para pecinta batu akik di Kalimantan Barat. Salah satu jenis batu
yang paling diminati masyarakat adalah batu red arwana (carnelian calsedony). Meski belum setenar batu bacan dari halmahera,
red arwana juga mampu laris di pasaran lokal dan nasional. Tertarik mengulas
lebih dalam tentang red arwana, media ini mencoba menelusuri asal muasal batu
tersebut.
Adalah Oniet, warga Desa
Lunsara, Kecamatan Putussibau Selatan, salah satu pencari batu red arwana yang
berhasil ditemui. Ia pun menceritakan perjuangannya bersama rekan sekampungnya
mencari krikil-kerikil red arwana yang ternyata beresiko tinggi terhadap nyawa
mereka.
Oniet yang tampak
ditemani dua orang putra dan istrinya yang sedang hamil menceritakan, pencarian
red arwana dimulai dari desa Lunsara menuju desa Sepan. Perjalanan ke desa
Sepan membutuhkan waktu satu hari satu malam dengan menggunakan long-boat, melewati
beberapa riam (sunggai bebatuan dengan arus yang deras). “Kami berangkat selalu
rombongan, biasa 5 atau 10 orang. Jadi kalau kesepan kadang kalau lewat riam
perahu di pikul,” ungkapnya, setiba di Sepan rombongan pencari batu melapor
dengan Kades setempat dan membayar retribusi desa Rp 100 ribu, supaya bisa ijin
naik kelokasi sumber batu.
Selanjutnya, tambah Oniet, dari desa Sepan menuju lokasi sumber batu harus menempuh perjalanan 3 jam dengan berjalan kaki. Perjalanan pun tidak lah mudah, harus mendaki batu tengilas (batu cadas di perbukitan) dengan titian pancang kayu dan akar-akar pepohonan seadanya. “Tinggi tengilas itu sekitar 20 meter sampai 30 meter, kalau kita terpeleset bisa meninggal. Ada dua tengilas yang harus dilewati. Selain itu ada dua bukit yang harus dilintasi baru sampai ke dalam goa dimana batu-batu itu berada,” ungkapnya.
![]() |
Oniet Menunjukan Batu Red Arwana |
Selanjutnya, tambah Oniet, dari desa Sepan menuju lokasi sumber batu harus menempuh perjalanan 3 jam dengan berjalan kaki. Perjalanan pun tidak lah mudah, harus mendaki batu tengilas (batu cadas di perbukitan) dengan titian pancang kayu dan akar-akar pepohonan seadanya. “Tinggi tengilas itu sekitar 20 meter sampai 30 meter, kalau kita terpeleset bisa meninggal. Ada dua tengilas yang harus dilewati. Selain itu ada dua bukit yang harus dilintasi baru sampai ke dalam goa dimana batu-batu itu berada,” ungkapnya.
Dipaparkan Oniet,
batu-batu red arwana tersebut tidaklah berserakan dilantai goa, melainkan di
dalam lubang-lunbang yang ada pada dasar sungai, tepat ditengah-tengah goa
tersebut. “Kami harus menyelamnya, tanpa mesin kompesor, karena masyarakat desa
setempat tidak memperbolehkan menggunakan mesin itu. Takut batu cepat habis,”
ujarnya.
Sungai didalam goa tersebut berarus deras, warna airnya pun merah pekat sehingga susah melihat bebatuan didalamnya. Pada bagian dasar sungai ada lubang-lubang batu yang cuma cukup masuk satu badan manusia. Saat memasuki lobang itu ada ruangan yang luas, didalamnya bisa sampai satu ton batu dengan berbagai jenis. “Sebagian lobang lainnya cuma bisa dimasukan dengan tangan,” ungkap Oniet.
![]() |
Bongkahan Kerikil Red Arwana |
Kalau cuaca bagus, para
pemburu batu hanya butuh 4 hari untuk mengumpulkan puluhan kilogram red arwana.
Tapi kalau cuaca kurang bersahabat, tidak satu pun pencari batu berani menyelam, karena air yang berada di
dalam lobang batu arusnya juga menjadi deras. “ Kalau
mencari batu itu kami biasanya bawa bekal, bawa tenda dan pakaian seadanya.
Kadang 2 hari baru bersalin pakaian,” tutur Oniet.
Saat pulang, setiap
pencari batu bisa membawa 32 Kg hingga 50 Kg batu, tergantung pada fisik
masing-masing sebab mesti melewati perbukitan dan tengilas lagi. “Kami
pulangnya tetap rombongan, karena saat melewati tengilas batu-batu yang dibawa harus
diulur dari atas bukit menggunakan akar duri, nanti ada yang mengulur dan
menyambutnya. Saat pulang membawa batu dari bukit ke desa kami, bisa sampai
4 hari perjalanan, jadi dari berangkat hingga pulang membutuhkan waktu
semingguan,” ungkapnya.
Saat ini warga mulai
meninggalkan aktifitas pertamabangan emas rakyat untuk mencari batu red arwana.
Bahkan di dalam goa sumber batu tersebut sudah ada ratusan masyarakat yang
mengantungkan hidupnya disana. “Penghasilan dari batu ini tidak tentu, seminggu
kadang dapat 3 juta, kadang hingga 12 juta,” tutupnya. (penulis: yohanes santoso)